LANGKAN

TENTANG BLOG INI

Pada dasarnya pembuatan blog ini tak lebih dari sebuah upaya untuk mengaktualisasikan suatu kreativitas. Namun dalam perjalanannya terselip juga pikiran dan gagasan-gagasan baru.  Kenapa peluang dan kesempatan ini tidak dimanfaatkan  untuk berbagi dengan sesama tentang sesuatu yang (menurut kita) mungkin juga bermanfaat.

Jauh sebelum blog ini lahir, keinginan untuk mengomunikasikan sesuatu di dunia maya sudah bergelora sedemikian rupa.  Sayang, waktu dan kesempatan sepertinya belum begitu berpihak kepada keinginan yang demikian.  Namun ketika Sang Pemberi Petunjuk memberikan kemudahan, akhirnya harapan-harapan (yang semula baru sebatas angan-angan) itu berwujud juga.  Masih sederhana memang. Tetapi setidaknya sudah merupakan sebuah pencapaian yang menggembirakan.

Lalu kenapa blog ini diberi nama “Garin’s” ??? Waaaahh……. ini panjang lagi ceritanya.  Tapi yakinlah, Anda akan mendapatkan informasi sejelas-jelasnya.  Kami akan menerangkannya seterang-terangnya, tapi tentunya menunggu hari terang benderang.  Bersabarlah !!!!!!!!!!!!

Ide, gagasan dan harapan-harapan itu munculnya bisa kapan saja.  Tidak terduga malah kadang-kadang.  Karenanya blog ini bisa berisi apa saja (terkait dengan yang tak terduga tadi). Dan yang jelas tergantung kesempatan kapan bisa diposting.

Untuk itu kami berharap Anda bisa hadir dan berbagi pula disini.

Kritik dan saran dari siapapun jelas sangat diharapkan, karena memang tidak ada gading yang tak retak.  Sebab kalau tak retak, pasti gadingnya palsu atau artifisial.

Begitulah,

Kaki telah mulai terlangkah

Kedepan memintal arah

Sesekali, lihat-lihat jugalah

 

 

 

 

TENTANG GARIN

(Mencoba sedikit peduli)

Jika selama ini Anda belum pernah mendengar kata ini, maka bersyukurlah.  Karena sekarang Anda telah dapat mendengar dan akan mengetahuinya.  Tapi karena penasaran, Anda coba berikhtiar untuk menemukannya pada berbagai referensi.  Jelas Anda akan kecele.  Meski Anda mencoba mengutak-atik beberapa Ensiklopedi, atau KBBI, atau Webster Dictionary, atau Cambridge Dictionary, atau bertanya kepada si Google (si mesin pencari) pun, Anda tidak akan menemukannya. Yaaahh……. paling-paling yang ketemu hanyalah “Garin Nugroho” si sutradara kawakan itu.

Lalu apa sebenarnya “GARIN” itu ?????????????????????

GARIN itu adalah sebuah job – sebuah pekerjaan – sebuah profesi.  Dan orang yang melakoni pekerjaan ini pun dinamakan juga dengan “GARIN”.  Pemanggilannya pun (bisa) bermacam-macam, sesuai dengan daerah atau tempatnya.  Ada yang memanggilnya dengan “Angku GARIN”,  lalu ada pula yang memanggilnya dengan “Tuan GARIN”, atau ada pula yang memanggilnya dengan “Mak GARIN”, atau mungkin dibelahan dunia sana, bisa saja dipanggil dengan “MARBOT” atau mungkin dengan panggilan “Mister GARIN” atau apalah istilahnya.  Yang jelas “GARIN” adalah sebuah kata atau istilah baku dan akan kita bakukan.

Habitat atau lahan tempat bekerjanya GARIN ini ada di masjid-masjid atau mushalla-mushalla. Artinya dimana saja ada masjid atau mushalla di dunia ini, pasti ada GARIN nya.

Job discription nya bukan tidak tak terbatas, tetapi amat sangat luas (unlimited).  Terkait dengan itu, tanggungjawabnyapun (sebenarnya) amat sangat besar dan berat. Lihatlah….., mulai dari membersihkan pekarangan masjid, kebersihan ruangan masjid, kebersihan tempat berwudhuk, mengatur penerangan ruangan, menyetel sound system, pengaturan tempat shalat, mengantar surat-surat atau undangan rapat dari Pengurus Masjid, tak jarang GARIN juga yang ditugaskan. Dan bukan saja hanya itu, bahkan lebih jauh lagi dari itu.  Ketika Mu’azin tidak datang, GARIN lah yang mengambil peran.  Tatkala Pak Imam berhalangan, maka GARIN lah yang maju.  Suatu ketika pak Ustad untuk khatib tidak muncul atau tidak ada, padahal waktu shalat Jum’at sudah masuk, maka GARIN juga lah yang naik.  Jadi dapat dibayangkan betapa kompleksnya tugas seorang GARIN.

Lalu bagaimana penghargaan” yang diberikan kepadanya ??????????????

Nah….., inilah yang kadang jadi persoalan.  Ketika kita menyandingkan beratnya tugas dan tanggungjawab seorang GARIN dengan penghargaan yang kita berikan, amatlah tidak sepadan.  Kalaulah tidak terlalu berlebihan jika dikatakan cukup memprihatinkan.

Tatkala masjid tidak bersih, GARIN juga yang salah. Ketika waktu shalat ternyata sajadah tidak cukup bersih, GARIN juga yang kena tegur.  Ketika waktu shalat sudah masuk, azan belum juga berkumandang, GARIN juga yang salah.  Sementara kita belum cukup peduli pada kehidupannya, kepada pengharapan masa depan anak dan keluarganya.

Lihatlah misalnya di pelosok-pelosok, di kampung-kampung, bagaimana kehidupan seorang GARIN.  Jika di sekitar masjid ada pohon kelapa 4 batang, maka dari hasil memetik buah kelapa itulah anak dan keluarganya dihidupi.  Atau mungkin di pekarangan masjid ada dua buah kolam untuk cuci kaki yang sekaligus juga untuk memelihara ikan, maka dari hasil panen ikan itulah anak dan keluarganya dihidupi.

Maka dari sinilah munculnya ide dan gagasan “liar” ini, bagaimana harkat dan martabat GARIN ini kita angkat, kita berdayakan, kita sebandingkan, sehingga semangatnya untuk bekerja fulltime tetap bergelora.

Mari kita bicara, mari kita berbagi, mari kita coba peduli.

Iklan